Setiap kali membuka kelas di hadapan mahasiswa baru, saya selalu menanyakan apa yang membuat mereka bisa berada di kelas saya, bagaimana mereka bisa bergabung dengan kelas saya, lebih jauh, mengapa mereka memilih fakultas dan universitas yang sekarang sedang mereka tempati ini?
Jawaban yang saya dapati beragam, namun dari ragam jawaban itu jelas terlihat dimana posisi mereka sebenarnya. Maksud saya adalah, para mahasiswa ini memilih universitas, fakultas, dan tentunya kelas saya, karena murni pilihan mereka atau pilihan itu terpaksa diambil untuk mengakomodir keinginan pihak lain. Keinginan pihak lain? Ya, keinginan pihak lain. Sangat banyak manusia melakukan sesuatu yang bukan kehendaknya, melainkan kehendak pihak lain, alasannya yahh karena tidak enakan lah, takut kwalat lah, dan lain sebagainya.
Well, bagi yang memilih murni pilihannya sendiri saya ucapkan selamat, mereka telah terbebas belenggu keinginan pihak lain. Bagi yang memilih karena keinginan pihak lain, juga selamat, karena mereka akan menjadi orang tangguh JIKA MAMPU membuktikan bahwa pilihan yang bukan murni keinginan mereka itu bisa terealisasi. Yang rugi mereka yang sudah dipilihkan pihak lain lalu hilang tak tentu arah.
Setiap manusia seperti apa yang diungkap Ibn Abdirrazak memiliki dua akal yang membentuk mereka. Pertama, akal murni, yaitu akal yang berasal dari diri setiap manusia, dan yang kedua akal budaya atau akal yang berasal dari luar mereka. Akal ini bisa berupa pengaruh lingkungan, kebiasaan, adat istiadat, nilai, dan segala hal yang bukan murni dari dalam diri manusia itu, dalam bahasa sederhananya ini yang dimaksud “pihak lain” dalam narasi di awal tadi.
Untuk poin pertama, sangat jarang akan kita temukan, kalaupun ada mungkin hanya sekian persen dari sekian banyak persen. Namun begitu, ciri orang yang memakai akal murninya dapat dilihat ketika orang tersebut dapat menentukan pilihannya sendiri. Seorang pecinta madu pembenci soda, disuguhkan madu bersoda dengan madu tanpa soda, maka ia akan memilih madu saja karena memang dia tidak menyukai soda. Tentu berbeda, jika ia memilih soda karena merasa tidak enakan dengan orang disekitarnya yang sangat mencandu soda. Tentu beda, sangat-sangat beda.
Bagaimana dengan akal budaya, cirinya tepat dihadapan saya, sejumlah mahasiswa yang mengikuti kelas saya pagi ini, sebagian besar memilih fakultas, universitas, juga kelas saya, karena ayah, ibu, saudara, dan atau orang terdekatnya menghendaki ia menjadi jurnalis, politisi, praktisi perdamaian, diplomat, dan lain-lain. Sebenarnya sebagian dari mereka lebih menyukai dunia olahraga, ada juga yang memimpikan menjadi aparat penegak hukum, petani sukses, bahkan ada yang ingin menjadi seorang ibu rumah tangga saja, lebih parah lagi, seorang mahasiswa nyeletuk dari pada tidak kuliah tahun ini pak, jadi lebih baik saya masuk di fakultas ini. Pilihan pertama saya di fakultas X saya tidak lulus, saya lulusnya di fakultas ini, jadi yah mau gimana lagi.
Nampaknya mahasiswa-mahasiswa ini tidak sadar bahwa kungkungan akal budaya (keinginan pihak lain yang terjejal dalam lingkungan, adat, kebiasan, dan lain-lain) disekitar merekalah yang telah menggerakkan mereka. Tidak salah menjalankan keinginan pihak lain, namun pahami bahwa lima, sepuluh, duapuluh tahun lagi lingkungan dan orang-orang yang anda akomodir keinginannya itu akan meninggalkan anda, tertinggal anda sendiri, apa yang akan anda katakan. Mah, pah, yang (pala lu peyang), walaupun mamah, papah, yayang, sudah di alam sana, tapi aku bangga karena telah sampai ketahap ini, tahap yang mamah, papah, dan yayang harapkan. Tentu ini dialog FTV bukan dialog dunia nyata. Dan sungguh dialog ini menjijikkan.
Pada akhirnya, betapa banyak orang, demi mengakomodir keinginan pihak lain ia tidak bahagia, betapa banyak orang, demi membahagiakan pihak lain, ia nelangsa, betapa banyak orang, demi menyenangkan pihak lain, ia tersesat. Betapa banyak orang saat ini, demi mengakomodir keinginan kelompoknya dia akhirnya menjadi babi yang buta.
Sekali-kali jangan, jangan jalankan kehidupan orang lain. Tuhan telah memberi akal untuk anda pergunakan. Bukan akal itu anda gunakan untuk menjalankan akal orang lain. Halagh bacot aja ente, dari zaman ke zaman mana ada manusia yang menjalankan akal murninya, mana ada, mana coba ayo.
Loh ente tidak baca kisah Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibarahim itu, andaikan mengakomodir kenginan Rajanya, tentu tidak ada itu, cerita yang terus terulang ketika Idul adha mengenai penolakannya menyembah Namrud (ini cerita legend bagi para khatib ied). Tentu tidak ada juga itu, cerita lain mengenai Ibrahim a.s. yang menolak memberikan Sarah istrinya kepada raja zalim pemilik sifat aneh mencinta wanita-wanita bersuami. Musa a.s. pun demikian, akan menyerahkan kaumnya bani isra’il kepada fir’aun. Ada lagi, cerita mengenai Socrates yang melegenda itu. Junjungan para pecinta filsafat ini minum racun loh karena mempertahankan akal murninya. Lebih baik mati daripada mengakomodir keinginan raja dan para sofis menurutnya. Dan ingat, akan sangat-sangat mengerikan jika Muhammad s.a.w mengakomodir keinginan pamannya Abu Lahab untuk tidak menyebarkan agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin ini.
Ngerti ora’ son?
